Banyak orang tua merasa lega ketika anaknya sudah makan dan terlihat kenyang. Padahal, kenyang tidak selalu berarti bergizi. Anak bisa saja kenyang karena nasi dan gorengan, tetapi tubuh dan otaknya belum tentu mendapat nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal. Di sinilah pentingnya memahami bahwa gizi anak bukan sekadar mengisi perut, melainkan membangun masa depan.
Tubuh anak ibarat rumah yang sedang dibangun. Jika bahan bangunannya asal-asalan, rumah mungkin tetap berdiri, tetapi tidak kokoh. Begitu pula dengan gizi. Protein membentuk otot dan jaringan, lemak sehat membantu perkembangan otak, karbohidrat memberi energi, sementara vitamin dan mineral menjaga tubuh tetap kuat melawan penyakit. Semua punya peran dan tidak bisa saling menggantikan.
Menariknya, anak tidak selalu butuh makanan mahal. Tempe, tahu, telur, ikan, sayur bening, dan buah lokal justru sering menjadi sumber gizi terbaik. Yang dibutuhkan adalah variasi dan keseimbangan, bukan sekadar porsi besar. Satu piring dengan warna yang beragam sering kali lebih bernilai gizi dibanding piring penuh tapi isinya itu-itu saja.
Tantangan terbesar bukan pada anak, melainkan pada kebiasaan orang dewasa. Anak belajar dari apa yang ia lihat. Jika orang tua jarang makan sayur, sering minum minuman manis, atau makan sambil bermain gawai, kebiasaan itu akan ditiru. Sebaliknya, ketika keluarga menjadikan waktu makan sebagai momen bersama yang menyenangkan, anak akan lebih mudah menerima makanan sehat tanpa paksaan.
Pola makan juga tidak kalah penting. Anak yang makan teratur, tiga kali makan utama dan dua kali selingan sehat, cenderung memiliki energi yang stabil dan emosi yang lebih baik. Makanan selingan tidak harus jajanan kemasan. Buah potong atau kacang rebus sering kali sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh anak.
Gizi anak bukan hanya urusan keluarga, tetapi juga urusan lingkungan. Posyandu, kader kesehatan, dan kepedulian warga berperan besar dalam memantau pertumbuhan anak sejak dini. Menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, dan berdiskusi soal pola makan adalah langkah sederhana yang dampaknya besar.
Karena pada akhirnya, anak sehat tidak lahir dari piring yang penuh, tetapi dari pilihan gizi yang tepat, kebiasaan yang baik, dan perhatian bersama. Dari lingkungan kecil inilah generasi sehat dan cerdas dibangun.
